Pilgub Jatim – Kalah Karena Dihukum

Selesai sudah ritual akbar pilgub Jatim 2008. Memang belum resmi dinyatakan selesai, tetapi rasanya sudah tidak ada lagi langkah hukum yang akan ditempuh kubu Khofifah. Atau kalo kubu Khififah berencana hendak mengeluh ke Mahkamah Konstitusi (lagi), sebaiknya baca dulu nasihat saya di bawah ini (yang serba sok tau dan sok tua).

Sungguh menarik melihat pertandingan final pilgub Jatim kemarin di Pamekasa, Sampang dan Bangkalan. Saya bilang menarik, karena ternyata rakyat Jatim ini sangat typical dengan umumnya masyarakat Indonesia di lain propinsi (atau karena Jatim paling banyak jumlah pemilihnya ya sehingga Jatim lah yang mewarnai Pilpres 2004 kemarin). Sifat typical yang saya maksud adalah suka menghukum orang yang jahat. Tentu saja dalam pilgub Jatim, pihak yang jahat adalah pihak yang (hampir pasti dinyatakan) kalah yaitu kubu Khofifah.

Sejak hasil putaran kedua yang kalah tipis, kubu Khofifah kemudian melanjutkan usahanya melalui meja hijau Mahkamah Konstitusi. Setelah vonis MK keluar, rupanya masih ada blunder-blunder kubu Khofifah termasuk melapor ke DPR tentang vonis MK yang diartikan bahwa putaran II adalah tidak sah. Rupanya blunder-blunder ini dimaknai lain oleh rakyat di 2 kota coblosan ulang yaitu kubu Khofifah dianggap keterlaluan. Terbukti hasil coblosan ulang menunjukkan perbedaan suara yang sangat signifikan. Lebih mengejutkan lagi, TPS-TPS yang tadinya KAJI menang ternyata dilaporkan di tv dimenangkan oleh KARSA dengan selisih yang sangat signifikan pula (dengan segala tuduhan kecurangan yang ada).

Saya berpendapat (ngawur), masyarakat 2 kota itu sepertinya sudah kehilangan simpati lagi ke Khofifah. Sehingga saat mencoblos bukan karena mereka pro KARSA tetapi lebih karena menghukum  KAJI. Untung di pasangan KARSA, sial di KAJI.

Ada sebuah kisah yang patut dipikirkan kubu Khofifah. Alkisah, pada pilpres Amerika thn 2000. Antara GW Bush vs Al Gore (Wapres incumbent). Posisi electoral treshold ternyata seimbang sampai dengan negara bagian terakhir yaitu Florida yang ditengarai ada kecurangan. Posisi Al Gore adalah lebih tidak beruntung saat itu dibanding GW Bush. Konstitusi saat itu memungkinkan Al Gore untuk meminta coblosan ulang di Florida. Tetapi Al Gore justru mengatakan: ENOUGH! Al Gore balik kanan, GW Bush jadi presiden (sampai 8 thn). Tapi apa yang kita lihat GW Bush vs Al Gore hari ini ? Al Gore adalah seorang pemenang Nobel yang terhormat (bidang lingkungan). Sedangkan GW Bush adalah pemegang rekor presiden AS yang turun panggung dengan menundukkan kepala. Tidak ada rekor popularitas terendah seorang presiden AS sebelumnya. Jadi, kepada ibu Khofifah yang terhormat, silahkan disarikan cerita nyata saya ini (kalo sempet baca tapi). Tidak usahlah menjadi legawa atas kekalahannya (siapa sih yang ngga panas dikalahkan macem gitu). Tapi jadilah Al Gore. Sama-sama dikenang dan terkenal, tapi posisinya berbeda 180 derajat dibanding lawannya dulu.

Oya satu lagi. Ibu Khofifah ini kalah pilgub Jatim salah satu sebabnya adalah karena Ibu saya (di Cilacap – Jateng) tidak ridlo dan ikhlas. Lho apa hubungannya? Begini, Ibunda saya (Alhamdulillah masih sehat di umur 67 thn ini) adalah mantan ketua Muslimat Kab Cilacap beberapa tahun lalu. Ibunda saya sangat senang kepada ibu Khofifah karena selama dipimpin ibu Khofifah, Muslimat betul-betul sedang menjalani masa-masa keemasan. Termasuk kemajuan dengan dibukanya Muslimat cabang di beberapa negara asing. Ibunda saya betul-betul puas dengan ibu Khofifah. Nah pada waktu saya mudik dan bercerita bahwa ibu Khofifah ikut maju njago lurah Jatim, Ibunda saya langsung bereaksi negatif. Marah-marah (bahasa Cilacapan: morot-morot) dan khawatir akan terjadinya pergantian kepengurusan pusat Muslimat NU (dan berakhir pula masa keemasan Muslimat). Ibunda saya tidak ikhlas dan tidak ridho bu Khofifah maju pilgub. Dan kita semua sudah tahu hasilnya kan.

Ah, udahlah, ngelantur ngga karuan. Semoga Jawa Timur lebih baik. Tinggal kita tagih janji-janji wong-wong brengosen itu saat kampanye. Ngga nepati janji, ya jangan dipilih lagi pilgub 2014.

2 responses to “Pilgub Jatim – Kalah Karena Dihukum

  1. He..he.. memang jadi penguasa itu ueanaak tenan cak.

    Khofifah mungkin mau mengikuti jejak presiden Benazir Butto, yah sekarang nyalon jadi gubernur siapa tahu nanti bisa jadi presiden🙂

    • iyo, jarene uwong iku nek nang ndokor isok delok uakeh pemandangan. suwun wes mampir, cak. sampeyan ndik batam kono yak opo adoh nemen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s